KALIMAT DALAM BAHASA INDONESIA
Disusun oleh :
Nindy Ayu Zahrarohmah
(22862081073)
M Syarif
Hidayatullah (22862081108)
M Naufal Anas
Maulana I (22862081110)
A. PENDAHULUAN
Kalimat memegang peranan penting dalam proses
komunikasi, karena kalimat merupakan unit terkecil bahasa. Tiap kalimat
merupakan manifestasi pikiran pemakai bahasa. Kalimat mengandung pesan yang
ingin disampaikan penulis kepada pembaca karena setiap pikiran atau gagasan
yang dimiliki seseorang pada hakekatnya dituangkan ke dalam bentuk kalimat.
Seorang penulis agar terampil menyusun kalimat yang baik diperlukan adanya
penguasaan struktur sintaksis, khususnya kalimat. Kalimat yang baik harus
memenuhi persyaratan gramatikal. Penguasaan pola kalimat merupakan salah satu
syarat yang penting bagi seorang penulis. Kalimat yang dihasilkan oleh seorang
penulis haruslah kalimat yang mampu membuat isi atau maksud yang disampaikan
penutur tergambar lengkap dalam pikiran si penerima.
Dalam proses komunikasi, fungsi kalimat tidak
hanya memberitahukan atau menanyakan sesuatu, melainkan mencakup aspek ekspresi
kejiwaan manusia yang sangat majemuk. Kalimat merupakan bagian terkecil dari
bahasa yang terdiri dari kata-kata. Kata-kata tersebut mengandung gagasan, ide,
atau pesan. Pesan yang terkandung dalam kalimat akan mudah dipahami jika dalam
penyusunan kalimat memperhatikan pola kalimat. Salah letak dan ketidakjelasan
dalam menempatkan unsur-unsur fungsi kalimat dapat menghambat pemahaman pembaca
tentang maksud penulis. Untuk itu pada makalah ini dibahas bagaimana menyusun
dan mengenal sebuah kalimat yang baik dan efektif.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat
dirumuskan masalah, diantaranya 1) Apa pengertian kalimat dalam bahasa
Indonesia? 2)Apa saja unsur-unsur kalimat itu? 3)Bagaimana pola kalimat dasar?
4)Apa saja jenis kalimat itu? 5)Bagaimana kalimat efektif dan syarat-syaratnya?
C. Tujuan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan
yang ingin dicapai penulis dalam artikel ini adalah mengetahui tentang
pengertian kalimat dalam bahasa Indonesia, mengetahui tentang unsur-unsur
kalimat, mengetahui tentang pola kalimat dasar, mengetahui tentang jenis-jenis
kalimat dan mengetahui tentang kalimat efektif dan syarat-syaratnya.
D. Pengertian Kalimat Dalam Bahasa Indonesia
Sebelum kita mengetahui apa
unsur-unsur dari kalimat, sebaiknya terlebih dulu kita mengetahui pengertian
kalimat itu apa. Kalimat merupakan susunan kata-kata yang membentuk arti dan
terdiri dari minimal subjek dan predikat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) Online, kalimat adalah kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep
pikiran dan perasaan, arti lainnya adalah perkataan.
Masih menurut KBBI, arti kalimat
adalah satuan bahasa yang berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan
secara aktual atau potensial yang terdiri atas klausa. Ada juga pendapat para
ahli, salah satunya menurut Gorys Keraf, kalimat merupakan suatu bentuk bahasa
yang mencoba menyusun dan menuangkan gagasan-gagasan seseorang secara terbuka
untuk dikomunikasikan kepada orang lain. Pendapat lain dari Akhadiah mengatakan
bahwa sebuah kalimat harus memiliki paling kurang subjek dan predikat.
Adapun unsur kalimat merupakan
fungsi sintaksis yang biasa disebut jabatan kata atau peran kata. Unsur-unsur
tersebut adalah S (subjek), P (predikat), O (objek), Pel (pelengkap), dan Ket
(keterangan). Pada kalimat bahasa Indonesia, kalimat tersebut dikatakan baku,
jika terdapat sekurang-kurangnya terdiri dari dua unsur, yaitu unsur S (subjek)
dan P (predikat). Sedangkan unsur-unsur lainnya seperti O (objek), Pel
(pelengkap) dan Ket (keterangan) boleh ada atau tidak pada sebuah kalimat.
E.
Unsur-Unsur Kalimat
1. Subjek (S)
Subjek (S)
merupakan bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, tindakan, keadaan, masalah
atau segala sesuatu yang menjadi pokok suatu pembicaraan dan dapat diterangkan
oleh Predikat (P) . Fungsi Subjek (S) ini dapat diisi oleh kata benda atau
frasa nomina, klausa maupun frasa verba.
Sebenarnya
dalam kaidah bahasa Indonesia yang baik mensyaratkan fungsi Subjek (S) baik
berupa kata, frasa atau klausa harus merujuk pada benda yang konkret atau
abstrak. Subjek (S) juga dapat dilihat atau dikenali dari cara bertanya dengan
memakai kata tanya seperti Siapa... atau Apa... kepada Predikat (P). Jika dalam
sebuah kalimat terdapat jawaban yang logis dari pertanyaan yang diajukan, maka
jawaban itu adalah subjek. Namun, jika dalam sebuah kalimat tidak ada jawaban
yang logis dari pertanyaan yang diajukan, berarti kalimat tersebut mempunyai
subjek.
Beberapa
contoh Subjek (S) adalah sebagai berikut :
a.
Ayahku suka bersepeda.
b.
Meja sekolah bagus.
c.
Yang memakai batik guru saya.
d.
Berlari-lari kecil sangat bagus untuk tubuh.
e.
Membangun jalan layang non-tol sangat mahal.
Kata-kata
yang dicetak tebal pada contoh di atas merupakan Subjek (S). Contoh (a), Subjek
diisi oleh kata orang, yakni Ayahku. Contoh (b), Subjek (S) diisi oleh frasa
nomina, yakni Meja sekolah. Contoh (c), Subjek (S) diisi oleh sebuah frasa,
yakni Yang memakai batik. Sedangkan contoh (d) dan (e), Subjek (S), diisi oleh
frasa verba, yakni Berlari-lari kecil dan Membangun jalan layang non-tol.
2. Predikat (P)
Predikat
(P) merupakan bagian kalimat yang berfungsi memberi tahu atau menerangkan
tindakan atau juga melakukan perbuatan Subjek (S) dalam sebuah kalimat. Selain
itu, Predikat juga berfungsi untuk menyatakan sifat atau keadaan Subjek,
termasuk juga untuk pernyataan jumlah sesuatu yang dimiliki oleh Subjek. Satuan
bentuk yang dapat mengisi Predikat tidak hanya kata, tapi juga dapat berupa
frasa.
Beberapa
contoh Predikat (P) adalah sebagai berikut :
a.
Adik menangis.
b.
Lelaki sholeh sekali.
c.
Surabaya dalam keadaan kondusif.
d.
Zahra guru baru.
e.
Rumah Pak Dosen dua.
Kata-kata
yang dicetak tebal pada contoh kalimat di atas berfungsi sebagai Predikat (P).
Pada contoh (a), kata menangis memberi tahu pekerjaan Adik. Contoh (b), kata
sholeh sekali memberi tahu keadaan lelaki. Contoh (c), kata dalam keadaan
kondusif memberi tahu situasi keadaan Surabaya. Contoh (d), kata guru baru
memberi tahu status Zahra yang seorang guru baru. Contoh (e), kata dua memberi
tahu jumlah rumah yang dimiliki Pak Dosen.
Kalau
diperhatikan pada contoh kalimat (a) - (e), fungsi Predikat (P) tidak hanya
berbentuk kata, tetapi juga berbentuk frasa seperti pada kata sholeh sekali,
dalam keadaan kondusif dan guru baru. Lima kalimat di atas adalah contoh
kalimat yang memiliki Predikat (P) sebagai pembentuk kalimat.
3. Objek (O)
Objek (O)
merupakan bagian kalimat yang menjadi sasaran tindakan Subjek (S) dan
melengkapi fungsi Predikat (P). Karena sebagai pelengkap predikat, maka
biasanya Objek (O) selalu di belakang Predikat (P). Sebagaimana dengan Subjek
(S), biasanya Objek (O) diisi oleh nomina atau frasa nomina dan juga klausa.
Dan dalam kalimat pasif, Objek (O) dapat berfungsi sebagai Subjek (S).
Beberapa
contoh Objek (O) adalah sebagai berikut :
(1.a)
Mahasiswa itu membaca buku Sejarah Islam.
(1.b)
Buku Sejarah Islam dibaca oleh mahasiswa itu.
(2.a)
Polisi menangkap para pencuri.
(2.b)
Para pencuri ditangkap oleh polisi.
(3.a)
Gubernur mengunjungi para korban bencana banjir.
(3.b)
Para korban bencana banjir dikunjungi oleh Gubernur.
Pada
contoh kalimat (1.a) dan (2.a) fungsi Objek (O) berada pada frasa buku Sejarah
Islam dan para pencuri. Namun, pada contoh kalimat (1.b) dan (2.b) kata Objek
(O) berubah menjadi Subjek (S), karena menjadi kalimat pasif. Sama halnya
dengan contoh (1) dan (2), pada contoh kalimat (3.a) klausa para korban bencana
banjir berfungsi sebagai Objek (O), namun berubah menjadi Subjek (S) pada
kalimat pasif di contoh (3.b).
Kalimat yang
memiliki fungsi Predikat (P) yang berupa verba transitif juga mewajibkan adanya
fungsi Objek (O) yang melengkapinya. Contohnya pada kalimat "Ibu
memasak...". Kata memasak tersebut merupakan verba transitif dan
membutuhkan kata untuk melengkapi kalimat tersebut agar menjadi Objek (O).
Contohnya seperti kata ikan, nasi, sayur atau yang lainnya.
4. Pelengkap (Pel)
Pelengkap
(Pel) merupakan bagian kalimat yang berfungsi sebagai pelengkap Predikat (P).
Unsur Pelengkap (Pel) hampir sama dengan Objek (O) hanya saja kalau Objek (O)
dapat berfungsi sebagai Subjek (S), sedangkan kalau Pelengkap (Pel) tidak dapat
berfungsi sebagai Subjek (S) dalam kalimat pasif.
Contoh Pelengkap (Pel) adalah
sebagai berikut :
(1.a) Hakim membacakan vonis
hukuman.
(1.b) Indonesia berlandaskan
Pancasila dan UUD 1945.
Kedua
contoh tersebut merupakan kalimat aktif yang sama-sama terdapat kata benda atau
nomina pada fungsi predikatnya yaitu vonis hukuman dan UUD 1945. Namun
perbedaannya dapat dilihat ketika diubah menjadi kalimat pasif. Perhatikan :
(2.a) Vonis hukuman
dibacakan oleh hakim.
(2.b) Pancasila dan UUD
1945 dilandasi oleh Indonesia.
Pada
kalimat (1.a) kata vonis hukuman yang berfungsi sebagai Objek (O), beralih
fungsi menjadi Subjek (S) pada kalimat (2.a). Sedangkan frasa Pancasila dan UUD
1945 tidak dapat dijadikan sebagai Subjek (S) pada kalimat (2.b). Dan dapat
disimpulkan bahwa Pelengkap (Pel) tidak dapat berfungsi sebagai Subjek (S) jika
diubah menjadi kalimat pasif.
5. Keterangan (Ket)
Keterangan
(Ket) merupakan bagian kalimat yang menerangkan lebih lanjut tentang Subjek
(S), Predikat (P) dan juga Objek (O) dalam sebuah kalimat. Keterangan (Ket)
boleh ditempatkan dimana saja atau bersifat mana suka. Keterangan (Ket) ini
dapat berupa adverbia, frasa nomina, frasa proporsional atau juga dapat berupa
klausa. Walupun Keterangan (Ket) ini dapat diletakkan dimana saja, namun jangan
sampai merubah makna sebuah kalimat. Contohnya :
a.
Mahasiswa mengikuti seminar pagi itu.
b.
Mahasiswa pagi itu mengikuti seminar.
c.
Pagi itu mahasiswa mengikuti seminar.
Frasa pagi
itu pada ketiga kalimat di atas berfungsi sebagai Keterangan (Ket) yang
berbentuk frasa nomina. Dan dapat menempati posisi dimana saja serta tidak
mengubah makna sedikit pun pada kalimat tersebut.
Menurut
Alwi dalam Finoza berdasarkan maknanya, terdapat beberapa jenis keterangan
dalam kalimat. Para ahli membagi keterangan (Ket) yang terpenting menjadi
sembilan macam. Yaitu keterangan tempat, keterangan waktu, keterangan alat,
keterangan tujuan, keterangan cara, keterangan peserta, keterangan similatif
atau kemiripan, keterangan sebab dan keterangan kesalingan.
F. Pola
Dasar Kalimat
Berdasarkan fungsi dan peran gramatikalnya, ada delapan tipe kalimat yang dapat dijadikan model pola kalimat dasar bahasa Indonesia. Diantaranya sebagai berikut :
1. Tipe S-P
Pola ini terhitung pola kalimat yang paling dasar dan sederhana. Sebab, pola ini hanya berupa subjek (S) dan predikat (P) saja. Adapun beberapa contoh kalimat yang menggunakan pola ini adalah sebagai berikut.
a. Ayah Bekerja. (S=
Ayah, P= bekerja)
b. Petani bercocok tanam.
(S= Petani, P= bercocok tanam )
c. Ibu Guru sedang mengajar. (S= Ibu Guru (subjek berbentuk frasa nomina), P= sedang mengajar)
2. Tipe S-P-O
Pola yang terdiri dari subjek (S),
predikat (P), dan objek (O) ini biasanya dipakai pada contoh kalimat
deklaratif aktif transitif dan kalimat aktif transitif. Adapun bebrapa contoh
kalimat dengan pola ini adalah sebagai berikut:
a. Ibu menanak nasi. (S=
Ibu, P= menanak, O= nasi)
b. Adik sedang memainkan
piano. (S= adik, P= sedang memainkan, O= piano)
c. Anak-anak sedang mengerjakan soal-soal ujian. (S= anak-anak, P= sedang mengerjakan, O= soal=soal ujian)
3. Tipe S-P-Pel
Pola ini terdiri atas
subjek (S), predikat (P), dan pelengkap (Pel). Biasanya, pola ini digunakan
dalam contoh kalimat
deklaratif aktif intransitif, contoh kalimat
deklaratif semitransitif, kalimat aktif
intransitif,
dan contoh kalimat
aktif semitransitif.
Contoh:
a. Tubuhnya berlumuran
keringat. (S= tubuhnya, P= berlumuran, Pel= keringat)
b. Langit malam ini
bertaburan bintang-bintang. (S= langit malam ini, P= bertaburan, Pel=
bintang-bintang)
c. Anak-anak sedang
bermain layang-layang. (S= anak-anak, P= sedang bermain, Pel= layang-layang)
4.
Tipe S-P-K
Merupakan pola yang
terdiri atas subjek (S), predikat (P), dan Keterangan (K). Pola ini biasanya
dapat dijumpai pada kalimat deklaratif aktiif intransitif dan kalimat aktif
intransitif. Adapun contoh pola ini adalah sebagai berikut:
a. Anak-anak bermain di
lapangan. (S= anak-anak, P= bermain, K= di lapangan)
b. Burung-burung
bersahutan di pagi hari. (S= burung-burung, P= bersahutan, K= di pagi hari)
c. Paman sedang bercukur dengan menggunakan pisau cukur. (S= Paman, P= sedang bercukur, K= dengan menggunakan pisau cukur)
5. Tipe S-P-O-K
Pola ini merupakan pola
yang paling umum dan paling dikenal di masyarakat. Sebagaimana yang telah
diketahui, bahwa pola ini terdiri atas subjek (S), predikat (P), objek (O), dan
keterangan (K). Adapun contohnya adalah sebagai berikut:
a. Ibu membeli
sayur-sayuran di pasar tradisional. (S= Ibu, P= membeli, O=
sayur-sayuran, K= di pasar tradisional)
b. Dimas mengerjakan
tugas sekolah dengan sungguh-sungguh. (S= Dimas, P= mengerjakan, O= tugas, K=
dengan sungguh-sungguh)
c. Para petani menanam padi di pagi hari. (S= para petani, P= menanam, O= padi, K= di pagi hari)
6. Tipe S-P-O-Pel
Pola ini terdiri atas
subjek (S), predikat (P), objek (O), dan pelengkap (Pel). Adapun contohnya
adalah sebagai berikut:
a. Ibu membelikan adik
pakaian baru. (S= Ibu, P= membelikan, O= adik, Pel= pakaian baru)
b. Adik membelikan kucingnya makanan kucing. (S= Adik, P= membelikan, O= kucingnya, Pel= makanan kucing)
7. Tipe S-P-Pel-K
Adalah pola yang terdiri
atas subjek (S), predikat (P), pelengkap (Pel), dan keterangan (K). Contoh:
a. Tubuhnya berlumuran
keringat karena bekerja keras seharian. (S= tubuhnya, P= berlumuran, Pel=
keringat, K= karena bekerja keras seharian)
b. Anak-anak bermain bola di tanah lapang. (S= anak-anak, P= bermain, Pel= bola, K= di tanah lapang)
8. Tipe S-P-O-Pel-K
Merupakan pola kalimat yang
paling kompleks dan lengkap karena semua unsur kalimat terkandung di
dalamnya. Contoh:
a. Ibu membelikan adik
sepatu baru pada hari Minggu kemarin. (S= Ibu, P= membelikan, O= adik, Pel=
sepatu baru, K= pada hari Minggu kemarin)
b. Adik membelikan
kucingnya makanan kucing dengan uang sakunya sendiri. (S= adik, P= membelikan,
O= kucingnya, Pel= makanan kucing, K= dengan uang sakunya sendiri)
G.
Jenis-Jenis Kalimat
1.
Kalimat Tunggal
Kalimat
tunggal adalah kalimat yang hanya mempunyai satu gagasan utuh terdiri atas satu
Subjek (S) dan satu Predikat (P). Dan biasanya kalimat ini berbentuk klausa
tunggal. Unsur Objek (O), Pelengkap (Pel) dan Keterangan (Ket) tidak diharuskan
ada dalam kalimat tunggal. Namun, jika Predikat (P) berbentuk verba transitif,
maka unsur Objek (O) diperlukan untuk melengkapi unsur Predikat (P).
Menurut Cook dan Elson
and Pickett, kalimat tunggal adalah
kalimat yang terdiri atas satu klausa bebas tanpa klausa terikat. Contohnya :
a.
Ayah pergi.
b.
Ibu minum.
c.
Kakak bermain.
Kalimat-kalimat yang panjang dapat ditelusuri juga dengan melihat pola-pola pembentuknya. Unsur Subjek (S) dan Predikat (P) pada kalimat tunggal dapat diperluas dan dilengkapi oleh unsur lain seperti Objek (O), Pelengkap (Pel) atau Keterangan (Ket). Jadi kalimat tunggal bukan berarti kalimat pendek, tetapi juga bisa kita temukan kalimat tunggal yang panjang hanya saja klausa atau gagasannya tetap satu.
2. Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang dibentuk dari gabungan dua atau lebih klausa. Kalimat majemuk ini dibagi menjadi dua, yaitu kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat.
a. Kalimat majemuk setara.
Kalimat majemuk setara
merupakan penggabungan dua atau lebih kalimat tunggal yang kedudukannya sejajar
atau sederajat. Berdasarkan kata penghubung (konjungsi), kalimat majemuk setara
terdiri dari lima macam, yakni Penggabungan, Penguatan/Penegasan, Pemilihan,
Berlawanan dan Urutan Waktu. Contohnya :
1) Rani pergi ke pasar
sedangkan Rudi berangkat ke bengkel. (kalimat majemuk).
2) Reza berangkat ke
sekolah, sedangkan ibunya pergi ke pasar. (kalimat majemuk).
Kedua contoh kalimat diatas merupakan kalimat majemuk setara/sejajar. Karena, terdiri dari dua klausa yang sama-sama penting atau sejajar/setara dan penanda dua klausanya adalah kata "dan" dan kata "sedangkan".
b. Kalimat majemuk bertingkat.
Kalimat majemuk
bertingkat adalah penggabungan dua atau lebih kalimat tunggal yang kedudukannya
berbeda. Di dalam kalimat majemuk bertingkat terdapat unsur induk kalimat dan
anak kalimat. Anak kalimat timbul akibat perluasan pola yang terdapat pada
induk kalimat.
Berdasarkan kata
penghubung (konjungsi), kalimat majemuk bertingkat terdiri dari sepuluh macam,
yakni syarat, tujuan, perlawanan (konsesif), penyebaban, pengakibatan, cara,
alat, perbandingan, penjelasan, dan kenyataan.
Contoh :
1.) Kemarin ayah mencuci
motor. (induk kalimat) Ketika matahari berada di ufuk timur. (anak kalimat
sebagai pengganti keterangan waktu)
1.a) Ketika matahari
berada di ufuk timur, ayah mencuci motor. (kalimat majemuk bertingkat cara 1)
1.b) Ayah mencuci motor ketika
matahari berada di ufuk timur. (kalimat majemuk bertingkat cara 2)
Penjelasan cara (1) :
Mendahulukan anak kalimat sebagai pengganti keterangan waktu daripada induk
kalimatnya.
Penjelasan cara (2) : Mendahulukan induk kalimatnya daripada anak kalimat sebagai pengganti keterangan waktu.
H. Kalimat Efektif dan Syarat-Syaratnya
Kalimat
dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, meupun
pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis. Untuk itu
mengirim suatu pesan, pesan tersebut harus memenuhi syarat sebagai kalimat yang
baik, yaitu strukturnya benar, pilihan katanya tepat, hubungan antar bagiannya
logis dan ejaannya pun harus benar. Keraf mendefinisikan kalimat efektif
sebagai kalimat yang mempersoalkan bagaimana ia dapat mewakili secara tepat isi
pikiran atau perasaan penulisannya; bagaimana ia dapat mewakilinya secara
segar, dan sanggup menarik perhatian pembacanya terhadap apa yang dibicarakan.
Menurut
Dalman, kalimat efektif merupakan kalimat yang mampu membuat isi dan maksud
yang disampaikan itu tergambar lengkap dalam pikiran si penerima (pembaca)
persis seperti yang disampaikan. Akhadilah menyebutkan kalimat juga memiliki
kemampuan atau tenaga untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pendengar
atau pembaca identik dengan apa yang dipikirkan pembicara atau penulis.
Dari
penjelasan di atas mengidentifikasikan bahwa kalimat dikatakan efektif apabila
gagasan yang disampaikan oleh penulis dari kalimat tersebut dapat diterima
secara utuh dan tepat oleh pembaca. Kalimat efektif juga kalimat yang tidak
berlebihan-lebihan dalam penulisannya. Artinya kalimat tersebut lugas, hemat
dan apa adanya.
Dalam
hal ini hendaknya dipahami pula bahwa situasi terjadinya komunikasi juga sangat
berpengaruh. Kalimat yang dipandang cukup efektif dalam pergaulan, belum tentu
dipandang efektif jikadipakai dalam situasi resmi, demikian pula sebaliknya.
Adapun syarat-syarat kalimat efektif adalah sebagai berikut.
1. Kesatuan Gagasan
Setiap kalimat yang baik harus jelas memperhatikan kesatuan
gagasannya, mengandung satu ide pokok. Tidak hanya itu, kalimat pun harus
memiliki keseimbangan yang harmonis antara pikiran dan struktur bahasa yang
dipakai. Ciri-ciri kesatuan gagasan dapat dilihat sebagai berikut :
a. Adanya subjek dan predikat yang jelas.
Contoh (kalimat yang salah) :
Di kampung-kampung terpencil pendidikan sudah digalakan.
b. Tidak terdapat subjek ganda.
Contoh
(kalimat yang salah) :
Anak
itu, tidak mau pulang kerumahnya, ia pun bersembunyi di dalam kandang ayam di
belakang rumahnya.
c. Tidak menggunakan kata penghubung intrakalimat dalam kalimat
tunggal.
Contoh
(kalimat yang salah) :
Aina
baru pulang dari malang. Sedangkan Ambar dan Lia baru saja berangkat ke
Jakarta.
d. Predikat kalimat tidak didahului oleh kata “yang”.
Contoh
(kalimat yang salah) :
Kampus
UHAMKA yang terletak di Jalan Tanah Merdeka, Jakarta Timur.
2.
Koherensi yang baik dan kompak
Koherensi atau kepaduan yang baik dan kompak adalah hubungan timbal
balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur (kata atau kelompok kata) yang
membentuk kalimat itu. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut :
a. Koherensi rusak karena tempat kata dalam kalimat tidak sesuai
dengan pola kalimat.
Contoh
:
(kalimat
yang baik) : Adik memakan ikan kembung tadi pagi.
(kalimat
yang tidak baik) : Ikan memakan kembung adik tadi pagi.
b. Kepaduan sebuah kalimat akan rusak pula karena salah mempergunakan
kata-kata depan, kata penghubung dan sebagainya.
Contoh
(kalimat yang kurang padu) :
Sejak
lahir, manusia memiliki jiwa untuk melawan kepada kekejaman alam, atau
kepada pihak lain karena merasa dirinya lebih kuat (tanpa kepada)
c. Kesalahan lain yang dapat merusak koherensi adalah pemakaian dua
kata yang maknanya tumpah tindih.
Contoh
(kalimat yang tumpang tindih) :
Banyak
para penjahat yang mencoba melarikan diri. (seharusnya cukup banyak penjahat
atau para penjahat saja).
d. Kesalahan lain yaitu salah menempatkan keterangan aspek (sudah,
telah, akan, belum dst)
Contoh
:
a.
Saya sudah membuat suasana menjadi kondusif (baik).
b.
Suasana saya sudah buat menjadi kondusif (salah).
3.
Penekanan
Dalam bahasa lisan kita dapat mempergunakan intonasi, gerak-gerik dan
sebagainya untuk memberi penekanan pada sebuah kata, sedangkan dalam bahasa
tertulis hal tersebut tidak mungkin dilakukan. Namun, penekanan kata dalam
kalimat dapat menggunakan cara-cara seperti di bawah ini :
a. Mengubah posisi kata/frasa dalam kalimat.
Contoh : Kami berharap pada kesempatan lain kita dapat membicarakan
lagi soal ini.
b. Mempergunakan repitisi kata/frasa
Repetisi
adalah pengulangan sebuah kata yang dianggap penting dalam sebuah kalimat.
Contoh
: Kemajuannya menyangkut kemajuan di segala bidang, kemajuan
kesadar-an politik, kesadaran bermasyarakat, kesadaran berekonomi,
kesadaran berkebudayaan, dan kesadaran beragama.
c. Pertentangan kata/frasa
Pertentangan
ini dapat dipergunakan untuk menekan suatu gagasan. Kita bisa mengata-kan
secara langsung hal-hal berikut dengan konsekuensi bahwa tidak terdapat
penekan-an.
Contoh : Anak itu bukan rajin dan jujur, tapi malas dan licik.
d. Partikel penekanan
Partikel-partikel ini berfungsi untuk menonjolkan sebuah kata atau ide
dalam sebuah kalimat. Partikel yang dimaksud adalah : lah, pun, kah, yang oleh
kebanyakan tata bahasa disebut imbuhan.
Contoh :
Saudaralah yang harus bertanggung jawab dalam soal itu.
Kami pun turut dalam kegiatan itu.
4.
Variasi
Variasi merupakan suatu upaya yang bertolak belakang dengan repetisi.
Jika repetisi lebih banyak menekankan kesamaan bentuk, maka variasi justru
menghindarinya agar tidak terlalu monoton. Untuk itu, variasi dapat dilakukan
dengan cara-car berikut :
a. Variasi sinonim kata.
Contoh : Seribu armada AS dikerahkan untuk menyerang pasukan
Palestina.
b. Variasi panjang pendeknya kalimat.
Contoh
: Menulis adalah cara yang biasa dilakukan oleh seseorang untuk mengungkap-kan
sebuah perasaan maupun kegundahan hati.
Pada kalimat tersebut terkandung 15 kata.
c. Variasi penggunaan bentuk me- dan di-
Contoh
: Pemerintah DKI Jakarta fokus untuk membangun Rumah Susun, dengan cara mengoptimalkan
sumber dana yang ada.
d. Variasi dengan merubah posisi dalam kalimat.
5. Paralelisme
Pararelelisme menempatkan gagasan-gagasan yang sama penting dan sama
fungsinya ke dalam suatu struktur/kontruksi gramatikal yang sama. Paralelisme
atau kesejajaran bentuk membantu memberi kejelasan dalam unsur gramatikal
dengan memperhatikan bagian-bagian yang sederajat dalam kontruksi yang sama.
6. Penalaran dan logika
Jalan pikiran adalah suatu proses berpikir yang berusaha untuk
menghubungkan fakta-fakta menuju kepada suatu kesimpulan yang masuk akal.
Tulisan-tulisan yang jelas dan ter-arah merupakan perwujudan dari berpikir
logis. Berikut adalah hal dasar tentang hal ini.
a. Definisi (batasan)
Definisi yang tepat merupakan kunci dari ciri-ciri berpikir yang
logis, dan dengan demikian juga menjadi ciri-ciri menulis yang logis.
1) Definisi berupa sinonim kata.
2) Definisi berdasarkan etimologi.
3) Definisi formal atau rill, atau disebut juga definisi logis.
b. Generalisasi
Generalisasi adalah suatu pernyataan yang mengatakan bahwa apa yang
benar mengenai beberapa hal yang semacam, adalah benar atau berlaku pula untuk
kebanyakan dari peristiwa atau hal yang sama.
I. Kesimpulan
Kalimat
adalah satuan bahasa yang berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan
secara aktual atau potensial yang terdiri atas klausa. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) Online, kalimat adalah kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu
konsep pikiran dan perasaan, arti lainnya adalah perkataan.
Unsur
kalimat merupakan fungsi sintaksis yang biasa disebut jabatan kata atau peran
kata. Unsur-unsur kalimat tersebut ada enam , yaitu S (subjek), P (predikat), O
(objek), Pel (pelengkap), dan Ket (keterangan). Unsur-unsur ini tidak hanya
pada sebuah kata, melainkan bisa saja pada sebuah frasa.
Berdasarkan
fungsi dan peran gramatikalnya, ada enam tipe kalimat yang dapat dijadikan
model pola kalimat dalam bahasa Indonesia. Keenan tipe kalimat tersebut adalah
tipe S-P; tipe S-P-O; tipe S-P-Pel; tipe S-P-Ket; tipe S-P-O-PEL dan tipe
S-P-O-Pel-K.
Berdasarkan
jumlah klausanya, kalimat dibagi menjadi dua. Yaitu kalimat tunggal dan kalimat
majemuk. Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya mempunyai satu gagasan utuh
terdiri atas satu Subjek (S) dan satu Predikat (P). Sedangkan, kalimat majemuk
adalah kalimat yang dibentuk dari gabungan dua atau lebih klausa.
Kalimat
efektif merupakan kalimat yang mampu membuat isi dan maksud yang disampaikan
itu tergambar lengkap dalam pikiran si penerima (pembaca) persis seperti yang
disampaikan. Syarat-syarat kalimat efektif ada enam, yaitu kesatuan gagasan,
koherensi yang baik dan kompak, penekanan, variasi, perarelisme dan penalaran
atau logika.
J. Saran
Dengan adanya
artikel ini, semoga dapat menjadi referensi bagi para pembaca dan diharapkan
para pembaca dapat menambah pengetahuan tentang kalimat dalam Bahasa Indonesia
beserta unsur-unsurnya. Dan macam-macam kalimat beserta contoh-contohnya.
Diharapkan juga para pembaca dapat menciptakan karya tulis yang baik serta
memenuhi kaidah penulisan dalam Bahasa Indonesia khususnya penulisan kalimat yang
benar. Karena, kalimat merupakan hal yang terpenting dalam menuangkan gagasan,
ide, fakta serta hal-hal lain yang penting menurut para penulisnya. Penulis
disini juga mengharapkan adanya kritikan dari pembaca guna untuk perbaikan
kedepannya,sebab penulis juga manusia yang punya banyak salah serta khilaf.
K. DAFTAR PUSTAKA
Hikmat Ade, Nina Solihati. (2013). Bahasa Indonesia (untuk Mahasiswa,
S1 & Pascasarjana, Guru, Dosen, Praktisi, Dan Umum). Jakarta: PT. Grasindo,
Anggota Ikapi.
Komentar
Posting Komentar